Menyelami Makna Kemerdekaan : 17 Agustus dan 1 Syawal

Beberapa waktu lalu, kita merayakan 2 moment luar biasa. Pertama, kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. Kedua, Kita merayakan Idul Fitri tanggal 20 Agustus 2012. Peristiwa ini seolah-olah mengajak kita untuk bisa merdeka secara totalitas, Why ? Berikut pembahasannya....

Indonesia yang dulunya pernah dijajah oleh bangsa lain memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1945. Belanda yang menjajah Indonesia selama 50-an tahun atau mungkin kurang dengan 300 tahunnya adalah masa perjuangan dan perlawanan untuk memperoleh kebebasan dari Belanda. Lalu, Indonesia dijajah kembali oleh bangsa Jepang sekitar 3,5 tahun dikurangi masa perlawanan. Setelah itu, barulah Indonesia mmemperoleh kebebasan pemerintahan secara de facto dan de yure beberapa tahun setelahnya. Sampai sekarang Indonesia masih diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Tapi, apakah kita benar-benar merdeka.

Tanah air kita yang begitu kaya dengan hasil alammnya, tidak bisa kita nikmati seutuhnya. Sebutlah kekayaan freeport yang disedot oleh bangsa asing, dan berbagai sumber daya alam Indonesia lainnya. Mengacu data British Petroleum Statistical Review, Indonesia yang hanya memiliki cadangan batubara terbukti 4,3 miliar ton atau 0,5 persen dari total cadangan batubara dunia menjadi pemasok utama batubara untuk China yang memiliki cadangan batubara terbukti 114,5 miliar ton atau setara 13,9 persen dari total cadangan batubara dunia.

Dengan rata-rata produksi 340 juta ton per tahun, sekitar 240 juta ton diekspor, cadangan terbukti batubara Indonesia akan habis dalam 20 tahun. Jika ini dibiarkan, Indonesia terancam menjadi importir minyak sekaligus batubara.

Di sektor migas, penguasaan cadangan migas oleh perusahaan asing masih dominan. Dari total 225 blok migas yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing, hanya 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, serta sekitar 77 blok dioperasikan perusahaan gabungan asing dan lokal.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh IPMG (International Pharmaceutical Manufacturing Group), 10 besar perusahaan farmasi asing tahun 2011 :

1. SANOFI AVENTIS ; dengan total penjualan Rp 1,068 trilyun.
2. PFIZER INDONESIA ; dengan total penjualan Rp 923 milyar
3. NOVARTIS ; dengan total penjualan Rp 809 milyar.
4. BAYER INDONESIA ; dengan total penjualan Rp 594 milyar
5. GLAXO SMITHKLINE ; dengan total penjualan Rp 570 milyar.
6. OTSUKA ; dengan total penjualan Rp 456 milyar.
7. ASTRA ZENECA ; dengan total penjualan Rp 383 milyar.
8. MERCK ; dengan total penjualan Rp 353 milyar.
9. MSD GROUP ; dengan total penjualan Rp 345 milyar.
10. BOEHRINGER INGELHEIM ; dengan total penjualan Rp 325 milyar.


Data-data itu belum termasuk data-data perusahaan otomotif, jasa, ritel, telekomunikasi, dan berbagai bidang usaha lain yang hampir seluruhnya dikuasaai oleh negara lain.

Dari segi politik pun ternyata Indonesia masih gamang, belum merdeka sepenuhnya. Sekitar tahun 2007, Presiden Megawati mengambil kebijakan untuk menjlain hubungan "mesra" dengan negara Rusia (mungkin niru sikap bapak kali ya...) yang akhirnya berujung pada aksi boikot oleh Amerika Serikat terhadap peralatan militer Indonesia dimana hampir seluruh suku cadang perlatan militernya diimpor dari Amerika Serikat karena peralatan militer Indonesia bukanlah hasil karya "anak bangsa" Indonesia (Ndak tahu tuch, lulusan ITB yang katanya pintar-pintar pada kemana semua).

Maka, sudah seharusnya di moment kemerdekaan ini, kita juga seharusnya benar-benar memahami bagaimana seharusnya bangsa yang merdeka. Bangsa yang tidak perlu didikte oleh bangsa lain. Bangsa yang seharusnya bisa melepaskan diri dari keterkungkungan terhadap bangsa lain.

Trus gimana dong ???

Salah satu cara yang paling efektif adalah melakukan perubahan pada diri sendiri. Bisa jadi bangsa kita diperbudak oleh bangsa asing karena kitanya yang memang punya watak "budak" sehingga senang untuk diperbudak. Lihat aja budaya beberapa element masyarakat Indonesia. Di kepramukaan dulu ada satu dogma terus ditanamkan kepada para praja (1. senior selalu benar, 2. Jika senior salah kembali ke pasal 1) yang menggiring perbudakan junior praja oleh seniornya. Tidak adalagi sistem perbaikan, sehingga mereka lebih takut seniornya ketimbang guru atau orang tuanya. Begitupun dengan mahasiswa Indonesia yang katanya adalah "agent of change". Budaya per-ploncoan menjadi sarana perbudakannya, sehingga kadang lebih takut terlambat menghadap senior atau melanggar aturan senior ketimbang terlambat menghadap Allah atau melanggar perintah Allah. Sehingga tidak salah ketika Allah mengatakan " wa minannasi man yattakhidzu min dunillahi andada..." (dan diantara manusia ada yang mengambil sesuatu yang lain sebagai tandingan Allah, Al-Baqarah : 165 ). Budaya ini kadang terus berlanjut sampain dunia profesi, seperti budaya "feodalisme" nya kedokteran Indonesia.

Nah, kalau kita sudah bisa membebaskan diri dari perbudakan orang lain (faktor eksternal), maka 1 tahapan sudah selesai. Lho kok....??? Ya iyalah. Masih ada faktor internal yang harus kita kendalikan agar bisa benar-benar merdeka. Faktor internal itu adalah nafsu yang ada dalam diri sendiri. Rasulullah saw menyampaikan : "Petarung sejati bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan nafsunya saat marah." (HR. Bukhari-Muslim). Atau di hadits yang lai “Laa yu’minu ahadakum hatta yakuuna hawaahu taba’an lima ji’tu bihi (Tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga nafsunya mengikuti apa yang kubawa)". Nafsu itu ibarat kuda yang kalau kita tidak bisa mengendalikannya, mengekangnya dengan tali kekang, maka kitalah yang akan dikendalikan olehnya. Pengendalian nafsu yang penulis maksud bukan hanya nafsu sex, nafsu makan, tetapi juga pengendalian nafsu dalam bentuk kemalasan. Kadang ada orang yang berkarya kalo lagi mood, belajar kalo lagi mood, bekerja kalo lagi mood sehingga pribadi seperti ini cenderung tidak efektif karena sebenarnya mood itu hanyalah alasan pelarian dari orang-orang malas.

Lebaran sebagai momentum kedua menjadi pengingat bagi kita bahwa kemerdekaan terhadap hawa nafsu sebagai bentuk kemenangan mengendalikan hawa nafsu selama bulan ramadhan menjadi penyempurna kemerkaan dan kebebasan diri kita dari hal-hal lain selain Allah.


Wallahu A'lam bish Shawwab....


Sumber data :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/25/06554537/Perusahaan.Asing.Mengancam.Kedaulatan.Indonesia




                                                                                               Makassar, 2 Syawal 1433H/20 Agustus 2012
Menyelami Makna Kemerdekaan : 17 Agustus dan 1 Syawal 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.
Share 'Menyelami Makna Kemerdekaan : 17 Agustus dan 1 Syawal' On ...

Ditulis oleh: Blogger Padang - Sunday, August 19, 2012

Belum ada komentar untuk "Menyelami Makna Kemerdekaan : 17 Agustus dan 1 Syawal"

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...